DUET PIMPINAN KOTA TEGAL
lihat "di sini"

H. Ikmal Jaya, SE, Ak. Habib Ali Zaenal, SE.
H. Ikmal Jaya, SE, Ak, atau lebih dikenal dengan panggilan JAYA, lahir di kota Tegal, 14 Juli 1973, adalah pasangan H. Ismail AD dan H. Rokhayah, dibesarkan dalam lingkungan religius. Menikah dengan Hj. Rosalina, seorang putri Pangkalpinang sebagai pendamping setianya, Ikmal Jaya telah dikaruniai 3 orang putra putri. Yaitu Anis Serliga lahir 7 September 1996, Muhammad Reksa lahir 27 Juni 2000, dan Sakinah Mazidah 17 Februari 2005.
Menamatkan Sekolah Dasar Ikhsaniyah 2 Tegal (1985), kemudian menyelesaikan SMP Negeri 3 Tegal (1988) dan SMA Negeri 1 Tegal (1991). Oleh karena itu, masa kecil dan remaja dihabiskannya di Tegal. Sehingga pemahaman tentang Tegal dengan segala dinamikanya bukanlah hal yang baru. Pendewasaan dan pencarian jati diri diteruskan ketika melanjutkan pendidikannya di Akademi Akuntansi YKPN Yogyakarta (1994) dan Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi pada Universitas Sebelas Maret Surakarta (1997) yang mengantarkannya mendapatkan gelar Kuntan dengan No. Register 18852.
Pada tahun 2003, Ikmal Jaya juga melihat peluang yang sangat terbuka untuk kembali mengembangkan bisnisnya di bidang transportasi di Jakarta. Salah satu keberhasilannya mengelola bus angkutan Bumi Serpong Damai (BSD), Kemang Pratama, Lippo Karawachi, Bintaro Jaya dan Bukit Sentul, armada angkutan ini, pada perkembangannya menjadi embrio dengan apa yang disebut Feeder Bus yaitu bus yang berfungsi memasok penumpang Bus Trans Jakarta (TJ)., dibawah bendera PT. WIFEND DHARMA PERSADA dimana Ikmal Jaya juga bertindak sebagai direktur utama. Ini merupakan prestasi tersendiri karena tidak semua perusahaan dapat berkiprah sebagai bagian dalam proyek megapolitan Trans Jakarta,apalagi hal ini dilakukan oleh perusahaan daerah seperti Tegal.
Keberhasilannya itu kemudian membawa Ikmal Jaya untuk sekaligus menahkodakan perusahaan angkutan terbesar di Kota Tegal yaitu P.O. Dewi Sri sebagai Direktur Utama sampai saat ini. Ikmal Jaya tidak sampai berhenti di bidang bisnis yang telah membersarkan namanya. Di bidang organisasi, keberadaan Ikmal Jaya juga diakui. Tercatat, pada tahun 1998 - 2000, Jaya dipercaya sebagai Wakil Ketua Persatuan Buruh Demokrasi Indonesia Tegal, yang semakin mendekatkan dan mengenalkannya pada dunia politik praktis. Oleh karena itu, pada tahun 2000 - 2005 Jaya dipercaya sebagai bendahara Pengurus Anak Cabang (PAC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kota tegal. Dengan demikian dunia politik bukanlah hal yang asing baginya, satu hal yang menjadi keinginanya terjun dalam kepartaian adalah memberikan warna sebagai partai yang visioner, paham dan peka terhadap permasalahan rakyat serta religius sebagaimana karakter masyarakat kota Tegal.
Keinginanya untuk berperan serta mengembangkan kota Tegal, juga dilakukan dengan membentuk Event Organizer (E.O) DJ. Jawa. Kendatipun relatif baru E.O. ini telah menyelenggarakan Fun Rally 2006 dalam rangka menyemarakan Hari Jadi Kota Tegal ke 426 tahun 2006, yang bekerja sama dengan Ikatan Motor Indonesia Polresta Tegal dansponsorship lainnya. Ini merupakan apresiasi dan dedikasi untuk ikut serta mengabdikan diri untuk Kota Tegal tercinta. Disamping hal tersebut , beberapa kegiatan diantaranya bhakti sosial seperti pembagian sembako, bantuan biaya pengobatan dan khitanan massal merupakan wujud tanggung jawab sosialnya sebagai pengusaha yang secara tidak langsung dibesarkan oleh masyarakat Kota Tegal.
1999 - 2009
Adi Winarso, lahir di desa Panggang Jepara, 11 Desember 1950. Sejak umur usia tahun orang tuanya ditugaskan di SMP 1 Tegal yang menyebabkan seluruh keluarganya harus pindah ke Tegal. Wiwien (Panggilan Keluarga) kecil tumbuh besar bersama keluarganya di Kota Tegal.
Meski memiliki latar belakang keluarga piyayi, beliau tetap rendah hati. Latar pendidikan dan keluarga yang baik membentuk karakter beliau. di SD Mangkusuman I, SMP 1 Tegal, dan SMA 1 Tegal beliau mendalami pendidikannya. Dengan memilih jalannya dengan menjadi Taruna AKABRI AL. banyak menjalani tugasnya sebagai Abdi Negara, hingga diminta menjadi Walikota Tegal 1999 - 2009.
Pada masa kepemimpinan beliau Kota Tegal yang kecil mulai berubah, tercatat 4 pusat perbelanjaan baru berdiri : Dinasty Baru Jl Kapt Sudibyo (berpindah tangan menjadi Moro hingga sekarang sudah tidak beroperasi lagi), Dedy Jaya Plaza pertigaan Jl Kartini-Jl AR Hakim, Pasific Mall perempatan Maya (exs Terminal), Rita MAll Jl. Kol. Sugiono.
Banyak hal yang berkembang di Kota Tegal, Dengan mempermudah sistem perijinan agar mampu menarik investor untuk membuka usahanya di Kota Tegal. Munculnya Pusat Bisnis baru seperti Nirmala Square. dan banyak usaha lain.
Pasar tradisionalpun menjadi sasaran rehabilitasi dengan menggunakan konsep semi-modern tercatat Pasar Langon, Pasar Kimpling, Pasar Randugunting, Pasar Anyar, Pembangunan Pasar Pagi. pemindahan terminal dengan maksud untuk memperluas lahan untuk kendaraan umum AKAP, AKDP maupun angkutan kota sehingga tidak terjadi kesemrawutan.
Tegal Keminclong Moncer Kotane, diwujudkan beliau dengan membuka Jl A. Yani Kota Tegal menjadi kawasan Jajanan pada malam hari dengan label Tegal Laka-laka, sehingga malam di Kote Tegal menjadi semarak dengan aneka hiasan lampu Kota.
1989 - 1998
H M Zakir lahir di Padangpanjang, Sumatra Barat, berasal dari kalangan Militer ABRI AD pernah menjadi Komandan Distrik Militer Kota Tegal. menjabat sebagai Walikota Tegal dari tahun 1989 sampai dengan 1998. Tegal Kota Bahari slogan yang dipopulerkan oleh beliau pada awal kepemimpinan.
Pada tahun 1998, ribuan mahasiswa dan rakyat turun ke jalan dengan tuntutan agar Walikota Tegal M. Zakir turun dari jabatannya karena dianggap menyuap mahasiswa dan tidak bisa menjalankan pemerintahan dengan baik. Setelah mendapat masukan dari berbagai pihak, DPRD Kota Madya Tegal mencabut dukungan kepada H.M. Zakir dan mengusulkan kepada Mendagri agar ia diberhentikan dari jabatan Walikota.
Akhirnya Beliau dipecat dari jabatannya sebagai Walikota Tegal. Surat pemberhentian tertanggal 23 September 1998 Nomer 131.33.820 ditanda tangani oleh Mendagri Syarwan Hamid, setelah memperhatikan Surat Gubernur Jawa tengah tertanggal 3 September 1998 Nomer 131/343/1998. Setelah terjadi pergolakan masyarakat yang menuntut pengunduran dirinya.
1984 - 1989
Sjamsuri Mastur menjabat sebagai Walikota Tegal dari tahun 1984 - 1989 pada masa pemerintahannya pada tanggal 12 Juni 1987 Balaikota Tegal dipindah dari Jalan Pemuda No. 4 ke Gedung Balaikota sekarang (sebelumnya Gedung Kabupaten).
Dasar Pemindahan Balaikota adalah Peraturan Pemerintah Nomer 2 tahun 1984 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II Tegal dari Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Tegal ke Kota Slawi di Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Tegal.
1979 - 1984
Arjoto SH, menjabat sebagai Walikota Tegal dari tahun 1979 - 1984., berasal dari kalangan ABRI (AL)
1967 - 1979
Sardjoe dilantik pada tanggal 29 mei 1967. Beliau berasal dari kalangan Maritim (AL). Pada masa pemerintahan Beliau wacana untuk membangun wilayah pesisir pantai utara digalakkan. Hingga terealisasikan dengan menjadi Pantai Alam Indah sekarang. Di masa beliau pula RA Kardinah ditemukan setelah menghilang pada saat Pemberontakan Kutil (Peristiwa Tiga Daerah). Atas usaha istri beliau Sumiati Sardjoe yang melacak keberadaan RA Kardinah hingga ke tanah Salatiga. (cat. Yono daryono Kompas.com).
Beliau pula yang menghendaki agar RA Kardinah disemayamkan di Tegalarum dekat makam suami RA Kardinah yang terlebih dahulu Meninggal.
1965 - 1967
Masa Kepemimpinan R Subagyo bersifat darurat karena berkaitan dengan bergolaknya Pemberontakan PKI. berseterunya front pancasila dan front nasional menyebabkan kepemimpinan Drs. Tadi Pronoto vakum.
Sempat pula digantikan sementara oleh R Suputro (Residen Pekalongan) atas mandat dari Pemerintah Propinsi Jawa Tengah. sehingg R Suputro merangkap jabatan.
R Subagyo kembali menjabat sebagai pelaksana tugas Kepala Daerah Kota Tegal sampai dengan pemilihan Sardjoe sebagai Walikota secara definitif tanggal 14 April 1967
1962 - 1965
Sejak tahun 1962 pemerintah daerah Kota Tegal dipimpin oleh Drs Tadi Pranoto. Selama di bawah pimpinannya, Kota Tegal telah melakukan kewajiban rutin pembangunan. pembangunannya antara lain.
1. | Pembuatan terminal Opelet di Jalan Hang Tuah |
2. | Pembuatan Terminal Opelet di Jalan Pancasila |
3. | Pemindahan Komplek dokar ke Jalan Akhmad Dahlan |
4. | Pembuatan kios-kios di sekitar alun-alun |
Adanya Gerakan PKI menyebabkan kondisi politik di Kota Tegal memanas sehingnga menimbulkan perpecahan antra Front Pancasila dan Golongan Nasional. hal ini menyebabkan Walikota nonaktif dan diadakan perombakan susunan BPH (Badan Pemerintah Harian). kemudian ditunjuklah R.subagyo sebagai pelaksana tugas Kepala Daerah
1948 - 1962
HRM Soepoetro Brotodiharjo menjabat sebagai Wakil Kepala Kota pada masa kepeminpinan R Soengeb. beliaulah yang menerima penyerahan senjata Jepang pertama kali yang kemudian menyerahkannya kepada pemuda Tegal yang akhirnya masuk ke dalam BKR.
Akhir tahun 1947 setelah Perjanjian Linggar Jati dilanggar oleh Belanda dan banyak tentara Indonesia yang mundur ke timur, pamerintahan kota dan kabupaten dipegang oleh Soepoetro. hingga pada awal tahun 1948 Kabupaten Tegal dipimpin oleh Susmono Reksonegoro.
Pada masa kepemimpinanya DPRD Kota Tegal dibentuk dengan beranggotakan 14 orang dilantik pada 13 September 1950 dengan ketuanya AA.Yenie Datuk Lelo Basya. Pemilihan anggota ini tanpa pemilihna umum hanya berasal dari kalangan organisasi massa dan Partai yang mengirimkan wakilnya.Pelaksanaan Pemilu yang Pertama kali setelah Indonesia Merdeka, untuk memilih DPR 29 September 1955 dan konstituante 15 Desember 1955.R Soepoetro menghasilkan karya Tegal Sepanjang Sejarah yang mencatat sejarah Tegal dan perjalanannya
1945 - 1948
R Soengeb sebelumnya tercatat sebagai Patih Pekalongan, Beliau menggantikan Mr Besar Martokusumo pada tahun 1945 yang diangkat menjadi Wakil Residen Pekalongan.Pada masa kepemimpinannya, Tegal menerima kabar gembira dari pusat (Jakarta) bahwa Indonesia sudah Merdeka, setelah melalui perundingan antara kempetai dengan R Sungeb tentara Jepang menyerahkan senjatanya kepada Wakil Kepala Kota R Suputro.
Di masa pemerintahannya pula Tegal mengalami goncangan yang dahsyat yang dikenal sebagai Peristiwa Tiga Daerah.
1942 - 1945
Mr. Besar Martokusumo. lahir di Brebes, 8 Juli 1894. Ketika pendudukan Jepang, yakni mulai April 1942 Mr Mas Besar Martokoesoemo diangkat jadi Shi-co (wali kota) Tegal. Beliau adalah walikota bangsa Indonesia Pertama. tercatat sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Beliau juga adalah salah satu tokoh advokat pejuang kemerdekaan. menjadi yang pertama kali membuka law firm di negeri ini. beliau membuka kantor advokatnya di kampung halamannya, Tegal.Beliau diangkat menjadi Kepala Kota (sit yoo) Tegal pada tahun 1942 setelah sebelumnya menjabat advocaat and procureer. pada tahun 1945 diangkat menjadi wakil resident (Fuku Syutyoo).
HISTORIA KOTA TEGAL
lihat "di sini"
Komplek Istana Kepresidenan Jakarta terletak di Jl. Merdeka Utara, berdekatan dengan Taman Monumen Nasional (Monas); di jantung ibu kota negara, di atas tanah seluas 6,8 hektar, di ketinggian lebih kurang 5 meter dari permukaan laut.
Istana Kepresidenan Jakarta terdiri dari dua bangunan istana, yaitu Istana Merdeka yang menghadap ke Monas, dan Istana Negara, yang menghadap ke Sungai Ciliwung, Jl. Veteran, selain itu terdapat pula bangunan lain dalam lingkungan Istana Jakarta, yaitu Kantor Presiden, Wisma Negara, Masjid Baiturrahim, dan Museum Istana Kepresidenan serta halaman yang ditumbuhi oleh pepohonan besar dan tua, yang berdaun rindang dan berakar berjuntai, serta berkat rerumputannya yang menghampar laksana permadani hijau, Istana Jakarta tampak teduh dan asri.
Istana Kepresidenan Jakarta fungsinya lebih difokuskan kepada kegiatan resmi kepresidenan, selain sebagai kantor Presiden Republik Indonesia juga sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan tempat penyelenggaraan acara-acara yang bersifat kenegaraan, pelatikan pejabat-pejabat tinggi negara, pelantikan perwira muda TNI, penerimaan tamu-tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasional, dan sebagai tempat memperingati Detik-Detik Proklamasi pada setiap tanggal 17 Agustus.
1. Istana Negara
Istana ini banyak mencatat peristiwa, diantaranya : Jenderal de Kock menguraikan rencananya untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol kepada Gubernur Jenderal Baron van der Capellen, dan Gubernur Jenderal Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel).
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 25 Maret 1947, di gedung ini pula terjadi penandatanganan naskah Persetujuan Linggarjati, pihak Indonesia diwakili oleh Sultan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.
2. Istana Merdeka
Istana Merdeka dibangun pada tahun 1879, istanan ini banyak mencatat peristiwa luar biasa dalam kehidupan pemerintahan Indonesia sehingga istana ini lebih banyak mendapat keistimewaan di hati rakyat Indonesia. Salah satunya adalah riwayat tentang nama istana itu sendiri, nama yang menggunakan kata merdeka. Kata Merdeka bukan tiada atau hampa arti, kata merdeka laksana bara asa bagi pertanda terlepasnya belenggu penjajahan di bumi Indonesia seraya menjadi bangsa yang berdaulat.
Pada tanggal 27 Desember 1949, di Istana Merdeka terjadi peristiwa tentang pengakuan atas kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Kerajaan Belanda melalui serangkaian upacara resmi yang dilaksanakan dalam waktu yang sama, baik di Belanda (Amsterdam pukul 10.00 waktu setempat) maupun di Indonesia (Jakarta dan Yogyakarta waktu pukul 16.00 waktu setempat). Pada hari itu di berbagai tempat dan penjuru tanah air, ratusan ribu pesawat radio menanti siaran dari Jakarta yang membawa berita luar biasa itu. Serta merta terdengar berita upacara penandatanganan dan penyerahan naskah tentang pengakuan atas kedaulatan Republik Indonesia Serikat itu.
Dengan waktu bersamaan bendera Merah Putih berkibar di depan Istana Merdeka sebagai pengganti bendera Belanda, lagu Indonesia Raya berkumandan, dan pekikan "Merdeka, merdeka, merdeka", yang menggema di seluruh pelosok tanah air, itu sebabnya istana bernama Istana Merdeka. Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pertama kali diadakan pada tahun 1950 tanggal 17 Agustus di Istana Merdeka.
3. Istana Bogor
Gedung Induk
Istana Kepresidenan Bogor terletak di Kelurahan Paledang, Kecamatan Kota Bogor Tengah, Kotamadya Bogor, Jawa Barat, di sekitar 60 kilometer dari Jakarta atau 43 kilometer dari Cipanas. Istana ini berada di atas tanah berkultur datar, seluas sekitar 28,86 hektar, di ketinggian 290 meter dari permukaan laut, tergolong ke dalam kota beriklim sedang, dengan hawa sejuk sangat sesuai untuk peristirahatan. Alam disekitar istana ini indah dan terasa nyaman, halamannya ditata seakan-akan tampak laksana permadani hijau yang terhampar mengelilingi bangunan istana. Selepas mata memandang, terbentang hamparan rumput yang segar menghijau, yang dirindangi oleh lebatnya aneka daun pepohonan terdiri dari 346 jenis pohon; Lima ratus sembilan puluh satu ekor rusa tutul (Axis-axis) manis bergerombol kesana-kemari; kolam-kolamnya berhias bunga teratai dan air semburat.
Riwayat Istana Kepresidenan Bogor bermula dari Gubernur Jenderal Belanda bernama G.W. Baron van Inhoff, yang mencari tempat peristirahatan dan berhasil menemukan sebuah pesanggrahan (10 Agustus 1744) yang diberi nama Buitenzorg (artinya bebas masalah/kesulitan). Dia sendiri membuat sketsa dan membangunnya (1745-1750) mencontoh arsitektur Blehheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris.
Namun, musibah datang pada tanggal 10 Oktober 1834 gempa bumi berat mengguncang sehingga istana tersebut rusak berat. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856) bangunan lama sisa gempa itu dirubuhkan dan dibangun dengan mengambil arsitektur Eropa Abad IX. Kemudian pada tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachourwer yang terpaksa harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemeritah pendudukan Jepang. Akan tetapi, riwayat telah mencatat sebanyak 44 gubernur jenderal Belanda pernah menjadi penghuni istana ini. Setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor (1950) mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia
Gedung Induk Ruang Kerja
Fungsi utama Istana Kepresidenan, pada masa penjajahan Belanda istana berfungsi sebagai tempat peristirahatan. Namun setelah jaman kemerdekaan berubah menjadi kantor kepresidenan dan kediaman resmi Presiden Republik Indonesia.
Sejalan dengan fungsinya pernah terjadi di Istana Kepresidenan Bogor, antara lain
(a) Konferensi Lima Negara (28-29 Desember 1954)
(a) Konferensi Lima Negara (28-29 Desember 1954)
(b) Penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret 1966 lebih dikenal dengan Supersemar.
(c) Pembahasan masalah konflik Kamboja yaitu Jakarta Informal Meeting (JIM)
(d) Pertemuan Para Pemimpin APEC (15 November 1994).
Bagian-bagian Istana Kepresidenan Bogor, Gedung Induk terdiri dari Ruang Garuda sebagai Ruang Resepsi; Ruang Teratai berfungsi sebagai Ruang Penerima Tamu; Ruang pemutaran film; Ruang Kerja Presiden; Ruang Perpustakaan; Ruang Famili dan Kamar Tidur; Ruang Tunggu Menteri yang akan mengikuti acara. Gedung Utama Saya Kiri terdiri dari Ruang Panca Negara pernah berfungsi sebagai persiapan Konfrensi Asia Afika di Bandung; Kemudian Ruang Tidur dan Ruang Tengah sebagai tempat menginap Presiden, Tamu Negara, dan Tamu Agung. Gedung Utama Sayap Kanan berfungsi sebagai tempat menginap para Presiden sebagai tamu Negara berikut tamu Negara dan tamu lainnya. Paviliun Sayap Kiri berfungsi sebagai kantor Rumah Istana Bogor, sedangkan Paviliun Sayap Kanan sebagai tempat menginap para pejabat dan staf tamu Negara. Bahkan pada tahun 1964 dibangun khusus untuk istirahat Bapak Presiden dan keluarganya, yang dikenal dengan nama Dyah Bayurini.
4. Istana Tampak Siring
Istana Kepresidenan Tampaksiring berada pada ketinggian lebih kurang 700 meter dari permukaan laut, berlokasi di atas perbuktian di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Pulau Bali. Merupakan satu-satunya istana kepresidenan yang dibangun masa pemerintahan Indonesia yang dibangun pada tahun 1957 - tahun 1960, sepenuhnya ditangani oleh putra-putra Indonesia, atas prakasa Presiden I Republik Indonesia : Soekarno.
Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, tampak (bermakna telapak) dan siring (bermakna miring). Menurut legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa. Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring.
Istana Tampaksiring dibangun secara bertahap, arsiteknya R.M Soedarsono. Pertama kali dibangun adalah Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira pada tahun 1957, dilanjutkan perampungan tahun 1963. Selanjutnya untuk kepentingan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, di Bali pada tanggal 7 - 8 Oktober 2003, di bangun gedung baru dan merenovasi Balai Wantilan, bangunan pintu masuk tersendiri yang dilengkapi dengan Candi Bentar, Kori Agung, serta Lapangan Parkir berikut Balai Bengongnya.
Istana Tampaksiring difungsikan disamping untuk acara-acara Presiden dan Wakil Presiden dalam hal kepemerintahan dan kenegaraan, juga peruntukan untuk tempat peristirahatan bagi Presiden dan Wakil Presiden peserta keluarga, serta bagi tamu-tamu negara. Menurut catatan, tamu-tamu negara yang pernah berkunjung ke Istana Kepresidenan Tampaksiring, antara lain Presiden Ne Win dari Birma (sekarang Myanmar); Presiden Tito dari Yogoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruschev dari Unit Soviet, Ratu Juliana dari Belanda dan Kaisar Hirohito dari Jepang.
Wisma Merdeka , Jembatan penghubung, dan Wisma Negara
Komplek Istana Kepresidenan Tampaksiring kini terdiri dari lima gedung utama dan satu pendapa. Dua gedung utama diberi nama Wisma Merdeka (1.200 meter persegi) dan Wisma Negara (1.476 meter persegi) yang dipisahkan oleh celah bukit sedalam lebih kurang 15 meter namun terhubung dengan jembatan sepanjang 40 meter, tiga gedung utama yang lainnya diberi nama Wisma Yudhistira, Wisma Bima, dan ruang untuk konferensi, serta Balai Wantilan.
5. Istana Cipanas
dari pintu masuk
dari depan
Istana Kepresidenan Cipanas terletak di Desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, kaki Gunung Gede, Jawa Barat dari sebuah bantunan yang didirikan pada tahun 1740 oleh seorang tuan tanah asal Belanda bernama Van Heots, pada ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut, di atas areal lebih kurang 26 hektar dengan luas bangunan sekitar 7.760 meter persegi. Pada tahun 1916, masa pemerintahan Hindia Belanda di bangun tiga bangunan dengan nama Paviliun Yudistira, Paviliun Bima dan Paviliun Arjuna. Pada tahun 1954, di masa Presiden I Republik Indonesia Ir. Soekarno, didirikan sebuah gedung berhiasan batu berbentuk bentol.
Istana ini dibangun dengan keadaan panorama alam yang asri, udaranya bersih, sejuk dengan berlatar belakang Gunung Gede. Dalam areal hutan istana, hingga tahun 2001, menurut Katalog yang disusun secara alfabetis terbitan Istana Kepresidenan berkerja sama LIPI tercatat sebanyak 1.334 spesimen, 171 spesies, 132 marga, serta 61 suku. Selain dengan lingkungan yang asri istana ini juga dialiri air panas. sebagai tempat peristirahatan dan persinggahan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya, para kepala negara tetangga yang berkunjung ke Indonesia. Pada tahun 1971, Ratu Yuliana meluangkan waktunya untuk singgah.
Gedung Bentol
Gedung Bentol terletak di belakang Gedung Induk berada di lereng gunung, maka bangunan ini berdiri lebih tinggi daripada bangunan-bangunan yang ada, merupakan produk dua arsitek anak bangsa, RM.Soedarsono dan F. Silaban. Sekelilingnya amat hening, sunyi dan sepi, suasana ini yang oleh Presiden Soekarno, dipakai untuk menyusun berbagai rencana dan strategi membawa bangsa ini yang dikorbarkannya dalam pidato kenegaraan, pada setiap peringatan hari proklamasi.
Pemandian Air Panas Presiden
Di bagian belakang Gedung Induk, masih terdapat bebarapa bangunan, namun yang paling besar peranannya terhadap keberadaan Istana Kepresidenan Cipanas adalah sumber air panas yang mengandung mineral. Maslahatnya bagi kesegaran dan kebugaran raga memang sanga alami, oleh karena itu, untuk menampung limpahan air dari sumber alam tersebut didirikan dua buah bangunan pemandian, yaitu bangunan dikhususkan untuk mandi Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya, dan yang satu lagi lebih besar diperuntukan rombongan yang menyertai Presiden dan Wakil Presiden.
6. Istana Yogyakarta
Istana Kepresidenan Yogyakarta terletak di ujung selatan Jalan Akhmad Yani (yang dahulu jalan Malioboro); Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kotamadya Yogyakarta. Kompleks ini dibangun di atas lahan seluas 43.585 meter persegi, sejak didirikannya Istana Yogyakarta tidak banyak berubah. Di halaman serambi depan tampak sebuah patung raksasa penjaga pintu (dwarapala) setinggi dua meter. Selain itu, terdapat sebuah tugu Dagoba (yang oleh orang Yogyakarta disebut Tugu Lilin) setinggi tiga setengah meter, yang senantiasa menyalakan api semu di puncaknya. Tugu ini terbuat dari batu andesit. Halaman belakang istana ditumbuhi oleh pepohonan besar dan tinggi yang dedaunannnya amat lebat dan rindang sehingga tampak seakan merindangi bangunan istana. Istana Kepresidenan Yogyakarta dikenal juga dengan nama Gedung Agung atau Gedung Negara, salah satu fungsi gedung utama istana, yaitu sebagai tempat penerimaan tamu-tamu agung.
Riwayat Istana Kepresidenan Yogyakarta bermula dari rumah kediaman resmi Residen Ke-18 di Yogyakarta (1823 – 1825). Ia seorang Belanda bernama Anthonie Hendriks Smissaert, yang sekaligus merupakan pemrakarsa pembangunan Gedung Agung ini. Gedung ini didirikan pada bulan Mei 1824 oleh A. Payen yaitu arsitek yang ditunjuk oleh gubernur jenderal Hindia Belanda. Pembangunan gedung ini sempat tertunda karena pecahnya Perang Diponegoro (1825 – 1830) dan dilanjutkan setelah perang itu usai (1832). Beberapa gubernur Belanda yang mendiami gedung tersebut adalah J.E. Jesper (1926 – 1927); P.R.W. van Gesseler Verschuur (1929 – 1932); H.M. de Kock (1932 – 1935); J. Bijlevel (1935 – 1940); serta L. Adam (1940 – 1942). Pada masa pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman resmi penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan.
Pada tanggal 6 Januari 1946 Yogyakarta resmi menjadi ibu kota baru Republik Indonesia setelah pemerintah Republik Indonesia berhijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Sejak saat itu Gedung Agung berubah menjadi Istana Kepresidenan, rumah kediaman Presiden Soekarno, Presiden I RI beserta keluarganya.
Pada tanggal 28 Desember 1949, Presiden berpindah ke Jakarta, sehingga istana ini tidak lagi menjadi tempat kediaman Presiden. Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada masa dinas Presiden II RI, sejak tanggal 17 April 1988, Istana Kepresidenan Yogyakarta/Gedung Agung juga digunakan untuk penyelenggaraan Upacara Parade Senja pada setiap tanggal 17, di samping untuk Acara Perkenalan Taruna-taruna Akabri Udara yang Baru, dan sekaligus Acara Perpisahan Para Perwira Muda yang Baru lulus dengan Gubernur dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan sejak 17 Agustus 1991, secara resmi Istana Kepresidenan Yogyakarta digunakan sebagai tempat memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan untuk DI Yogyakarta.
PAHLAWAN RI
lihat "di sini"
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1432 H
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1432 H kepada umat Muslim. Semoga di tahun yang baru ini Allah memberikan kekuatan untuk menjadikan amal ibadah kita menjadi lebih baik, menambah spirit tuk selalu berbuat kebaikan dan semakin bermanfaat bagi banyak orang-orang di sekitar kita.
Kalender Hijriyah atau Kalender Islam, adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Di kebanyakan negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Hijriyah menggunakan sistem kalender lunar (komariyah). Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M.
Mengikuti tahun hijriyah akan lebih mengakrabkan kita dengan alam, dan otomatis akan lebih mendekatkan kita kepada Allah Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Setiap awal tahun hijriyah seperti ini kita seharusnya sebagai umat Islam segera membangun semangat baru untuk meningkatkan ketakwaan dalam diri kita. Meningkatkan ketaatan kepada Allah. Dan kita segera mengucapkan pada hari-hari yang telah lewat dari tahun 1430 H. "Selamat jalan, selamat menjadi teguran sejarah atas segala kekurangan dan kami berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang telah menyebabkan malapetaka dan kesengsaraan terhadap hidup kami di dunia maupun di akhirat
Sebenarnya ada hal yang menarik dari setiap kita memasuki tahun baru yaitu munculnya kesadaran baru dalam diri kita. Kesadaran akan beberapa hal : Pertama, kesadaran bahwa diakui atau tidak usia kita telah berkurang. Sementara investasi pahala untuk simpanan di akhirat masih sangat tipis, dibanding nikmat-nikmat Allah yang setiap detik selalu mengalir yang tiada putus-putusnya. Dari segi ini saja kita seharusnya merasa malu, di mana kita yang mengaku sebagai hamba Allah tetapi dalam banyak hal orientasi kita menkonsumsi nikmat-nikmat Allah dan lupa bersyukur kepadaNya, bahkan kita sering mengaktualisasaikan diri kita sebagai hamba dunia. Kita masih saja lebih banyak sibuk menginvestasi kepentingan dunia dari pada investasi untuk akhirat.Semoga semangat untuk membangun kemegahan akhirat lebih kuat dari semangat untuk membangun kemegahan dunia. Kedua, pada tanggal 1 Muharram kita menyaksikan suatu perubahan waktu yang ditandai oleh pergeseran alam, yaitu munculnya bulan sabit tahun baru di ufuk barat. Dari sini kita menyaksikan diri kita berjalan seirama dengan perjalanan segala wujud di alam ini. Allah SWT yang menciptakan semua mahluk, selalu mengajarkan kita agar senantiasa memperhatikan kebesaraNya dengan menyaksikan keteraturan dan kerapian ciptaanNya di alam semesta ini. Untuk itu kita diajarkan pula agar dalam menjalani ibadah kepadaNya selalu memperhatikan waktu-waktu tertentu yang sejalan dengan perputaran tata surya.
Jika memang beribu kekurangan melekat pada diri kita ditahun sebelumnya, semoga di tahun ini kita bisa membenahi dan memperbaiki semua kekurangan tersebut, dan jika seandainya hal-hal yang sudah dirasa baik yang melekat pada diri kita, mudah-mudahan dapat ditingkatkan perihal kebaikan tersebut atau paling tidak dipertahankan. Semoga kita mampu mengatasi dan melewati segala bentuk ujian hidup yang senantiasa melekat dan mutlak adanya dalam kehidupan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar